Published Senin, April 30, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Terlepas

Yah, notes punya kak Adzim tentang disiplin sudah terlepas; tidak bisa dipasang lagi. Notes-nya cuma bertahan beberapa bulan di depan meja kerjaku, seperti tahu bahwa aku sudah tidak disiplin lagi.

Hiks.
Read More
Published Senin, April 30, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Hannan Harus Kuat

Pagi ini, aku akhirnya mengetahui apa-apa yang selama ini disembunyikan. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan. Tapi aku harus kuat.

Ya Allah, kuatkan aku...
Read More
Published Minggu, April 29, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Dingin dan Menyakitkan

Beberapa hari belakangan ini, entah apakah karena memang kota Jakarta yang sedang dingin-dinginnya oleh musim hujan yang airnya terus turun membasahi bumi; atau hanya daya tahan tubuh saya yang sedang melemah; saya jadi sering kedinginan. Yang biasanya saya harus tidur dengan kipas yang mengarah tepat ke tubuh saya, kali ini saya justru mematikan aliran listriknya; menggunakan selimut dari ujung kaki sampai kepala, lalu meringkuk sembari memeluk guling dengan erat.
Pun tidak ada bedanya dengan suasana kantor. Yang biasanya saya selalu merasa kepanasan meskipun suhu ruangan sudah diatur hingga angka enam belas; padahal saya sudah duduk persis di depan ac; kali ini saya justru sudah menggigil di angka dua puluh empat. Padahal, sepertinya kalau diingat-ingat ke belakang, maksimal suhu ruangan yang membuat saya nyaman adalah dua puluh dua, lebih satu angka saja sudah akan terasa panas.

Selain itu, saya tahu, bahwa saya pasti akan sakit perut setiap selesai minum susu rasa apapun selain rasa stroberi, tetapi saya terus saja meminumnya. Entah mengapa stok susu stroberi di warung-warung itu sedikit sekali, cepat habisnya. Namun, beberapa hari ini pun sepertinya perut saya juga sudah tidak sanggup menahan kesakitan itu. Karena nyatanya setelah meminum susu stroberi pun akhir-akhir ini saya juga merasakan sakit yang sama. Sakit sekali, melilit-lilit gitu.

Ah, saya jadi bingung dengan kondisi tubuh saya yang tidak karuan ini.


Catatan ini sengaja saya post beberapa hari setelahnya;
dan saya tulis sambil menahan sakit perut yang berlipat-lipat;
karena saya habis minum susu cokelat di hari pertama kunjungan.


Read More
Published Sabtu, April 28, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Menyesal

Seharian ini aku sibuk sekali. Bahkan saking sibuknya, aku harus membatalkan pertemuanku dengan seorang sahabat lama yang sudah dari jauh-jauh hari menagih kehadiranku di kota kembang ini. Kegiatanku cukup banyak; dari masak memasak, menghadiri acara walimahan seorang kenalan, mengunjungi toko buku dan diakhiri dengan jalan-jalan keliling kota Bandung. Namun ada hal yang menarik.

Sore tadi saat di sebuah toko buku, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkeliling, dari satu lantai ke lantai lainnya hanya untuk mencari buku yang sudah lama aku idam-idamkan, "Serial 4 Wanita Penghuni Surga". Aku berjalan hingga kakiku mati rasa, sampai harus berkali-kali bertanya dari satu petugas ke petugas lainnya karena sudah saking lelahnya; yang nyatanya buku itu justru berada di rak yang pertama kali aku kunjungi. Dan mungkin karena aku sudah lama mengincar buku itu, akhirnya aku pun memutuskan untuk langsung membeli dua buku sekaligus; Asiyah dan Maryam.

Harganya cukup mahal. Isi dompetku sampai habis dibuatnya, sehingga aku harus mengambil uang di atm. Dan saat aku memasukkan kartu atmku, dan melihat sisa saldo di dalamnya, ternyata... kosong. Dan entah mengapa setelahnya aku langsung memandangi kedua buku itu dengan tatapan penyesalan. Lalu sebuah pikiran pun menghantuiku, akan makan apa aku beberapa hari ke depan. Tidak, tidak hanya itu; tapi lebih ke pikiran, bagaimana cara aku bisa kembali ke Jakarta dengan isi dompet yang hanya bisa digunakan untuk membayar ojek online dari terminal ke kantor....

Aku benar-benar menyesal, hiks.
Read More
Published Sabtu, April 28, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Menunggu

Aku menunggu. 1 jam? 2 jam? Entahlah. Ini pertama kalinya aku menunggu sendirian selama itu, di tempat yang masih cukup asing bagiku. Aku menunggu sampai perutku mulas, dan aku kelaparan.
Padahal perjalanan itu bagiku begitu cepat; yang akhirnya membuatku harus menunggu lebih lama lagi.

Tapi dia tidak kapok.


Bandung, 28 April 2018;
sudah lama sekali aku tidak ke sini;
dan akhirnya rindu itupun terlepaskan.

Read More
Published Jumat, April 27, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Let Go

Before we say goodbye, let go, but I’m lost in the maze of my heart;
from stereo to mono, that’s how the path splits.

If my fate is to disappear like this, then this is my last letter;
penned words, written then erased feelings for you;
so many to let go, unpuzzle my lego at a level where it can’t return to its original shape;
so be it, don’t cry, I’mma let you go and fly.

Hectic days, keeping myself busy, distraction filled schedule;
burned into the back of my mind like tattoo;
we can’t return to those days, if I could I’d call your name;
no… but I’ll accept your blame, it really is time to say goodbye.

In order to release your hand right now;
I gotta let you know, that I need to let you go;
hard to say goodbye, but I can’t run;
I’m ready to let go.

What have you been up to lately?
Who are you thinking of so far away?
Life without you is really, unbelievable, but even so I still gotta go;
to the person I loved too much, to the red thread that got too entangled in itself.

I couldn't reach you, so I'll walk a separate path, for that reason I’ll say goodbye.

At first every day is like that, beyond the tears hidden in the rain;
I’ll wait for you, let’s start over;
so that in the future, I can meet you again with a smile.

The color of the sky we saw together;
the scent of the path we walked down together;
don’t forget them :)


This lyrics is from BTS, Let Go;
ditulis pada Jumat, di malam yang sebenarnya pagi;
yang saya tidak menyangka, pertama kalinya saya mengoding;
sampai lupa waktu, dan tiba-tiba terputar lagu ini;
keren sekali comeback Jepangnya.

Read More
Published Selasa, April 24, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Aku Ini Monster

Aku ini monster.
Tapi topengku sangatlah cantik.
Bak bunga di musim semi.
Senyumku mampu hilangkan pilu.

Aku ini monster.
Terlahir dari sebuah penyakit.
Bermuka dua penuh kepalsuan.
Demi bertahan untuk tidak dikucilkan.

Aku ini monster.
Lalu mereka mulai membenciku.
Tapi tidak dengan topengku.
Karena aku ibu peri dengan itu.

Aku ini monster.
Dan sempat terbesit dalam hati.
Apakah menghilang pilihan terbaik?
Karena tak selamanya aku menyembunyikan itu.


Selasa, 24 April 2018;
saat menulis ini, aku bertanya dalam hati;
apakah cinta hanya memandang bahagianya saja?
secepat itu melepaskan hati; meninggalkan luka;
tanpa peduli apa yang telah tergoreskan.
Read More
Published Selasa, April 24, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Biasanya, Dia...

Dia yang selalu bahagia;
biasanya yang paling sedih hatinya.

Dia yang selalu tersenyum;
biasanya yang paling sering menangis di malam-malamnya.

Dia yang selalu ceria;
biasanya yang paling terpuruk harinya.

Ya, dia;
yang lebih suka menutup diri,
yang pandai menyembunyikan rasa,
hanya akan terbuka pada dirinya,
atau setidaknya hanya satu orang,
yang sangat disayangkan,
biasanya tak dapat menerima, kekurangannya;
biasanya yang paling butuh dukungan untuk hidupnya.

Karena dia yang sebenarnya lemah;
biasanya hanya dicintai karena topeng cantiknya.


Selasa, pada malam-malam yang panjang.
Read More
Published Senin, April 23, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Brankas Rindu: Kota Metropolitan

Jika aku menilik balik kisah-kisahku di masa lalu, sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki satupun kenangan indah dari pengalaman hidup di kota metropolitan ini. Mungkin aku belum mampu untuk mengingat apapun saat usiaku baru menginjak angka 2 hingga 5 tahun; namun, saat ini pun ketika aku sudah memiliki kemampuan untuk merekam secara detail setiap hal yang terjadi dalam hidupku, nyatanya aku tetap merasakan hal yang sama, tanpa ada perubahan sedikitpun.

Entahlah, mungkin kota Jakarta terlalu keras untukku. Aku masih mengingat kejadian dimana aku sempat menolak untuk dipindah tugaskan ke kota ini; ketika aku masih bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi yang terletak di Bandung. Saking 'phobia'-nya terhadap kota metropolitan ini, aku justru memilih resign dari tempat kerjaku dan memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Terlalu berlebihan ya? Entahlah. Sebenarnya aku pun tidak tahu secara pasti apa penyebab dari ketakutanku ini. Jangankan penyebabnya, aku bahkan tidak pernah ingat bahwa Abi pernah memiliki pekerjaan sampingan sebagai penjual kaos sablonan; tidak ingat dimana letak dan bagaimana suasana rumah lamaku; dan tidak ingat siapa saja teman-temanku. Tapi, ada satu hal yang masih aku ingat hingga sekarang; sebuah kenangan ketika aku tinggal di sebuah daerah di pinggiran kota Jakarta.

Saat itu, seingatku, aku mengenal seorang teman; perempuan, yang setiap harinya selalu membangga-banggakan saudara-saudaranya di hadapanku. Ya, dia memiliki dua-tiga kakak yang aku lupa secara pasti berapa jumlahnya; yang hal itu selalu ia pamerkan kepadaku. Dan seperti yang kalian tahu, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara; saat itu, sedangkan hampir semua teman-temanku memiliki kakak. Bahkan, aku tidak diperbolehkan olehnya untuk ikut bermain; karena kondisiku yang merupakan anak pertama saat itu. Aku dikucilkan, hanya karena aku adalah seorang anak pertama. Bahkan, adik laki-lakiku pun diperbolehkan ikut bermain oleh mereka.

Namun, seingatku pula, beberapa temanku yang juga merupakan anak pertama tetap ia perbolehkan untuk ikut bermain bersamanya. Entahlah; aku juga tidak mengerti mengapa hanya aku yang dikucilkan saat itu. Tapi, aku masih ingat sekali kalimat itu. Kalimat yang pada saat itu, di masa itu, dengan umurku yang masih segitu, mampu membuatku menangis meraung-raung di pojok lapangan; dengan posisi dia yang duduk di tangga-tangga lapangan sambil terus meneriakiku dengan olokan-olokannya. Kejadian yang mungkin saat ini terbaca begitu sederhana, namun sangat membekas di memoriku.

Mungkin hal itu yang membuatku tidak begitu menyukai kota ini; meski pada kenyatannya aku kini bekerja di sini.


Jakarta, 23 April 2018; 16.13
Aku menulis untuk menghilangkan sedih;
aku menulis untuk menghilangkan sepi;
aku menulis untuk membahagiakan diri;
meski apa yang aku tulis adalah sebuah kesedihan.
Read More
Published Minggu, April 22, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Lafaz Cinta

"Senja itu. Di antara gurauan dan keseriusan, di antara masa lalu dan harapan, di antara cerita-cerita dan pengalaman, di antara kesedihan kehilangan beberapa sahabat dan kebahagiaan karena telah mengenal mereka; Seyla tahu, dia harus mulai mengubah segalanya. Terlalu, kalau dia menghabiskan waktu cuma mengejar pangeran impiannya. Toh, dia akan datang menjemput sendiri saat dirinya sudah siap dengan segala kelebihannya."

- Lafaz Cinta, Sinta Yudisia (Hal 302)


Alhamdulillah. Ini adalah novel kedua yang berhasil saya selesaikan minggu ini. Saya mengenal Sinta Yudisia karena kata Ummi, penulisnya adalah salah satu teman Ummi. Awalnya saya tidak begitu tertarik, karena berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, biasanya novel islami yang ditulis selain oleh tokoh-tokoh terkenal hanya mengedepankan kisah cinta yang hampir dapat ditebak; mirip dengan novel-novel islami lainnya. Tapi kali ini, novel ini berbeda.

Namun, saya tidak akan menjelaskan mengenai isi dari novel ini. Saya hanya akan membiarkan pembaca mengartikan dan mengimajinasikannya sendiri berdasarkan apa yang saya kutip di atas. Terima kasih :)


Purwokerto, 22 April 2018; 12:52
Saya belum mau kembali merantau;
saya masih butuh tempat untuk bercerita;
saya masih butuh untuk dipedulikan.
Read More
Published Sabtu, April 21, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Mereka Mulai Menyebutku Gila!

Tahun ini usiaku genap dua puluh tiga tahun. Sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan untuk manusia biasa sepertiku yang sama sekali bukan wonder woman. Aku lahir sebagai anak normal yang tidak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Masa kecilku tidak sebahagia anak-anak pada umumnya. Aku berjuang hidup sendirian. Dalam himpitan ekonomi yang pas-pasan, hujatan dan kesedihan, namun tetap bersih dari alkohol, rokok, kehidupan malam apalagi free sex. Prestasiku cukup bagus dan aku berhasil lulus dari sebuah universitas yang cukup ternama.

Tak ada seorangpun yang tahu ketakutan, kesakitan, serta kegelapan yang kurasakan dari hari demi hari. Semua orang hanya melihat topeng cantikku yang ceria, kuat, dan tegar dalam menjalani hidup. Aku termasuk orang yang cinta damai. Tapi entah kenapa masalah selalu mengejarku kemanapun aku pergi. Aku tidak pernah dengan sengaja melukai hati siapapun. Tapi entah kenapa pula, aku selalu menjadi bahan gosip dan pergunjingan dari orang-orang di sekitarku.

Beberapa bulan belakangan ini, aku mulai merasa aneh terhadap diriku sendiri. Aku yang biasanya suka bersikap lembut dan ramah, beberapa waktu sempat menjadi sering marah-marah tidak jelas, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Aku lebih mudah tersinggung, pun terkadang memiliki perubahan ide yang terlalu cepat. Intinya, aku bersikap begini itu pasti akan sangat menguji kesabaran orang-orang terdekat; apalagi orang yang hampir setiap hari bersama ataupun berkomunikasi denganku. Namun, ketika masa cooling down tiba, aku justru kembali berubah menjadi gadis yang super manis.

Aku tidak memiliki teman yang dapat dijadikan sebagai tempat sharing atau sekedar cerita, karena aku merasa bahwa tidak ada yang pernah mengerti ketika aku sedang bercerita. Aku biasa berbicara dengan cepat namun tidak ada dasarnya, sehingga beberapa temanku justru menjadi tidak menangkap maksud dari apa yang aku ceritakan. Hal tersebut pun membuatku tidak pernah mau untuk bercerita lagi. Aku menjadi lebih tertutup dan lebih suka berbicara sendiri ketika sedang sendirian. Aku merasa seperti ada orang yang menyauti pembicaraanku. Aku juga suka mengungkit-ungkit kesalahan orang di masa lalu, hingga membuatku marah-marah sendiri. Pun aku menjadi orang yang boros, membeli sesuatu yang sebetulnya tidak benar-benar aku butuhkan. Aku juga suka lagu-lagu sedih, lagu yang ketika mendengarnya mampu membuat hatiku mendayu-dayu.

Selain itu, jadwal tidur pun adalah hal tersulit yang paling susah untuk aku atur. Terkadang aku aktif di malam hari; tertidur di siang hari; beberapa hari tidak tidur; atau bahkan menjadi putri tidur yang menghabiskan seharian waktunya untuk terbaring di atas kasur. Aku selalu merasa sendiri, sepi, tidak berguna, bahkan sampai merasa menyesal kenapa aku harus hidup, jika hidup aku sedepresi ini. Aku banyak menghabiskan waktu di kamar, melakukan hal-hal yang aku sukai dan menghindari interaksi dengan orang lain.

Aku tidak tahu secara pasti sejak kapan sebenarnya aku mengalami hal ini, karena sejak jaman sekolah; tepatnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar pun aku sudah memiliki suicidal thought. Namun, seingatku, aku memang memiliki banyak memori yang tidak begitu menyenangkan semasa kecil. Mungkin teman-temanku mengira aku adalah orang yang aneh, karena pada suatu saat aku bisa jadi ikut bergabung pada beberapa lingkaran sosial, namun di waktu lainnya aku justru menghilang tanpa jejak.

Dan, ya, hari demi hari pun berlalu. Akhirnya aku pun memutuskan untuk berkonsultasi kepada seorang psikiater. Sebelumnya aku memang sempat menjadi silent reader di beberapa thread kaskus, sampai akhirnya perhatianku tertuju pada thread dengan judul, "Aku dan Bipolar Disorder." Ketika aku membacanya, bisa dipastikan, bahwa aku merasa apa yang tertulis di thread itu merupakan suatu kemiripan dengan apa yang sedang aku alami saat ini. Mungkin hal tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa aku memutuskan untuk menemui seorang psikiater.

Tetapi, saat itu, seorang psikiater yang aku temui menjelaskan bahwa penderita bipolar sebenarnya bukan orang gila, melainkan pemilik penyakit suasana hati dimana perubahan mood terjadi sangat cepat; dari ceria ke depresi akut yang dapat menyebabkan timbulnya penurunan kualitas hidup; atau lebih tepatnya menjadi jarang bergaul dan menjadi penyendiri. Lebih parahnya lagi, tidak sedikit penderitanya yang justru memiliki keinginan untuk melakukan suicide attempt. Penderita bipolar akan mudah marah, mudah bertengkar, ataupun sampai melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain dan diri sendiri; jika itu tidak diatasi dengan baik.

Jika ditanya bagaimana reaksiku saat mengetahuinya, jelas aku menjawab bahwa aku sangat terpuruk. Terlebih, saat ini pun aku berjuang sendirian untuk mengatasinya. Tanpa obat, tanpa support, dan tanpa caregiver; bertahan hidup di tengah ketidakmengertian masyarakat Indonesia tentang apa itu gangguan kejiwaan. Sangat menyakitkan ketika aku merasakan sakit secara fisik dan psikis, namun penampakan fisik justru terlihat sehat dan baik-baik saja. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa aku sedang berjuang melawan sebuah penyakit selain dokter jiwa dan sesama penderita. Tudingan menyebarkan kebohongan publik, drama queen, serta menjadi seseorang yang tidak beriman pun harus aku terima.

Ya, begitu mudahnya manusia lain mendiskreditkan penderitaan hidup orang lain sebagai akibat dari lemahnya iman seseorang. Sebetulnya iman itu apa? Bukankah yang paling pantas untuk mengukur iman kita hanyalah Sang Pencipta? Justru aku sangat mencintai Tuhanku, dan karena itulah aku mampu bertahan hidup selama ini. Menahan kesakitan dan kepedihanku yang tidak pernah dimengerti dan diterima orang lain, membiarkan semua orang berprasangka buruk terhadap 'perbedaanku'.

Namun, karena hal itulah, aku menjadi suka menulis memoarku, aktif memotivasi orang lain, serta berusaha setidaknya mulai mebuka mata masyarakat umum tentang adanya sebuah penderitaan yang melebihi penderitaan fisik; yaitu penderitaan mental. Betapa banyaknya kejahatan dan kehidupan yang rusak serta hancur yang dimulai dari derita jiwa; anak-anak broken home, anak-anak bermasalah: baik drugs, narkoba kehidupan bebas tanpa moral, kriminalitas, dan kehidupan amoral yang sekarang mulai mengisi dunia, yang semua itu tidak hanya bisa diatasi dengan agama.

Untuk orang-orang yang sudah mencapai taraf seperti itu, sakit di jiwanya haruslah disembuhkan terlebih dahulu agar bisa dituntun ke dalam kesadaran akan iman dan agama, bukan langsung dikucilkan atau dianggap tidak beriman. Ya, mereka, kami, aku, hanya butuh DITERIMA. Penerimaan yang kemudian akan menjadi langkah awal dari pengertian. Dua hal yang akan menjadi pilar utama bagi kesembuhan mental dan jiwa yang sakit, agar dapat menjadi manusia yang 'dianggap' normal dan sadar bagi masyarakat di sekelilingnya.

Namun, dari hal-hal yang terjadi dalam hidupku, setidaknya aku mendapatkan beberapa pelajaran berharga yang bisa sedikitnya mendukungku. Saat aku menjalani terapi, aku mendengarkan sedikit cerita orang-orang yang memiliki penyakit yang sama denganku. Mataku agaknya sedikit terbuka dengan segala gangguan jiwa. Dan, ya, dari sinilah aku menemukan adanya satu ciri khas yang menempel pada penderita tersebut; yaitu bahwa mereka kesepian. Mereka hanya butuh tempat curhat, sementara orang-orang di luar sana, atau bahkan keluarga mereka sendiri menganggap mereka adalah manusia yang aneh. Mereka gila! Ya, mereka menyebutku gila! Padahal, kami hanya butuh didengar dan ditemani. Kami hanya butuh support pada masa-masa sulit itu.

Pada intinya, tolong jangan hakimi hidup seseorang bila hidup seperti apa yang sebenarnya sedang ia jalani pun kita tidak mengetahuinya. Sebagaimana hidupku. Bila aku boleh memilih, aku pun hanya ingin menjadi orang normal seperti kalian tanpa perlu embel-embel sebagai penderita gangguan jiwa. Aku pun jelas tidak memilih untuk memiliki ketidakstabilan mood yang ekstrim ataupun ketidakstabilan cairan di otakku. Ya, jelas aku tidak memilih lahir di kehidupan sulit yang mungkin 'bisa disalahkan' sebagai penyebab 'ketidaknormalanku'.

Aku memang seorang bipolar disorder! Tapi jelas aku pun tidak mau seperti ini. Siapa yang harus aku salahkan dalam kondisi seperti ini? Aku sudah melakukan apa yang aku bisa. Tapi, bila 'sakit' adalah 'sakit', lalu kepada siapa aku dapat protes? Aku hanya mampu mengadu kepada Tuhanku, dan berusaha untuk menyalurkan 'sakit' itu kepada hal-hal yang lebih positif. Tapi, sebesar apapun usahaku, pasti akan ada sedikit celah-celah di dalamnya. Maaf kalau aku tidak bisa menjadi seorang perempuan yang sempurna seperti yang kalian mau. Aku bukan wonder woman. Karena aku hanyalah manusia biasa...

*

Kisah di atas sebenarnya adalah campuran dari beberapa kisah iniiniiniiniini, ini, yang juga pada kesimpulannya didukung penuh oleh artikel ini; yang telah saya rangkum sekaligus saya rangkai agar menjadi sebuah kisah yang utuh. Bipolar. Ya, saya sudah pernah mengatakan bahwa saya sedang tertarik pada penyakit ini; dan sedang bersemangat sekali untuk mempelajarinya. Penyakit ini memang merupakan penyakit kedua yang sedang saya pelajari, sebelum penyakit pertama yang juga pernah saya tuliskan rangkumannya: lupus.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari beberapa kisah penderita bipolar di atas; yang juga saya ambil dari sumber-sumber yang saya cantumkan di paragraf sebelumnya. Mungkin kebanyakan orang justru menganggap rendah orang yang mengalami gangguan jiwa, baik itu penderita depresi, bipolar, skizofrenia, gangguan panik dan cemas, dan lain-lain. Selain itu, biasanya mereka pun bertanya-tanya, mengapa ada hal seperti itu di dunia ini, dan justru menjadi penasaran dengan bagaimana rasanya. Mereka akan berusaha untuk mencari jawaban yang tepat; namun, semakin mereka mencari, mereka justru akan semakin bingung karena mereka tidak pernah merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang penderita gangguan kejiwaan. Akhirnya? Mereka hanya akan membandingkan penderita gangguan kejiwaan dengan diri mereka yang normal, hingga pada suatu kesimpulan bahwa orang yang menderita gangguan kejiwaan hanyalah orang yang tidak kuat ketika ditimpa suatu masalah, tidak berpegang pada agama, rapuh, dan stigma negatif lainnya.

Bipolar sendiri dapat timbul karena beberapa hal. Menurut Asosiasi Psikiatris Dunia (WPA), bipolar disebabkan oleh tiga hal. Pertama, struktur otak. Ilmuan menemukan bahwa adanya perbedaan ukuran otak antara penderita bipolar. Inilah yang menyebabkan kecelakaan pada kepala bisa menyebabkan seseorang mendadak menderita bipolar. Tapi, temuan yang lebih umum adalah kadar senyawa di otak yang tidak seimbang, sehingga obat-obatan akan sangat membantu menetralisir kondisi ini. Penyebab kedua adalah tekanan yang menyebabkan stress dari lingkungan. Pengaruh stress yang berlebihan ternyata dapat memicu kekurangan zat kimia tertentu di otak. Sedangkan penyebab ketiga adalah faktor genetik. Meskipun penelitian hal ini masih berlanjut, ilmuan menemukan jika seorang anak dapat mengidap bipolar turunan dari orang tuanya. Ya, bipolar memang merupakan salah satu gangguan kesehatan mental, namun bukan berarti bahwa penderitanya adalah seseorang yang biasa masyarakat kita menyebutnya dengan 'orang gila'.

Sementara dalam penangannya, orang dengan bipolar perlu perhatian khusus. Perubahan suasana hati yang ekstrem sering kali menjadi penyebab mereka bertindak tidak dengan pikiran yang jernih. Ian dalam Shameless digambarkan pernah menculik anak kekasihnya, dan meninggalkan bayi itu dalam mobil untuk waktu yang lama. Sementara, Marshanda seperti yang kita ketahui pernah mengungah video marah-marahnya ketika dalam keadaan depresi, yang justru menimbulkan cibiran dari orang-orang yang tidak mengerti. Tidak jarang, dalam kondisi depresi, orang dengan bipolar akan dengan mudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Pengawasan orang terdekat jadi modal utama bagi penderita bipolar untuk sembuh.

Ya, di dunia, banyak selebriti yang mengidap gangguan ini; seperti Catherine Zeta-Jones, Demi Lovato, dan Sinead O'Connor. Pun di Indonesia, gangguan bipolar mulai dikenal luas ketika pesohor Marshanda membuat heboh dengan drama penyanderaannya di rumah sakit oleh sang ibu. Namun, bipolar tidak selamanya dikaitkan dengan perspektif yang negatif. Banyak penderita bipolar yang justru mampu menyalurkan 'penyakit'-nya itu menjadi sesuatu yang positif; bahkan mampu menjadi kelebihan bagi dirinya sendiri.

Seperti Vindy Ariella yang justru menjadi motivator dan sering muncul pada seminar-seminar yang berkaitan dengan bipolar; atau Dini yang mampu menyalurkan gejala bipolarnya pada kesenian dan mampu mempertahankan indeks prestasinya di angka 4 pada setiap semesternya; atau Hanna Alfikih yang menjadi delegasi yang dikirim British Council Indonesia untuk mengikuti Unlimited Festival di London, Inggris; atau beberapa selebriti dunia seperti Demi Lovato dan yang lainnya yang sempat saya sebutkan di atas. Mereka hanya butuh dukungan, butuh tempat, dan tidak dikucilkan; atau lebih tepatnya tidak dibedakan. Sekali lagi, bipolar memanglah sebuah 'penyakit', namun dapat dijadikan sebagai sebuah kelebihan jika mampu ditangani dengan benar.


Purwokerto, pada malam-malam yang akan terasa lebih panjang;
mungkin orang-orang terdekatku merasakan hal yang sama;
sehingga aku pun sedang berusaha mempelajarinya.



Read More
Published Sabtu, April 21, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Brankas Rindu: Kota Kelahiranku

Pekanbaru. Ya, Pekanbaru merupakan kota kelahiranku. Tidak banyak yang aku ingat mengenai Pekanbaru, karena memang usiaku yang belum mampu mengingat apapun saat itu. Mungkin juga bukan tidak banyak, tetapi sebenarnya aku sama sekali tidak mengingat apapun. Namun, entah mengapa, aku sangat mencintai Pekanbaru. Bahkan aku merasa bangga jika ada yang mengetahui bahwa aku adalah seorang perempuan yang lahir dan pernah tinggal di Pekanbaru, meskipun hanya dua tahun lamanya. Atau aku biasa menyebutnya sebagai istilah 'numpang lahir'.

Mungkin orang-orang yang tahu bahwa aku dilahirkan di Pekanbaru sering bertanya-tanya, mengapa aku sampai pernah tinggal di Pekanbaru namun kini justru besar di Purwokerto. Dan setiap orang yang bertanya begitu padaku, biasanya aku selalu menjawabnya dengan kalimat sederhana. "Abi memiliki pekerjaan yang mengharuskannya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya, atau mungkin juga satu pulau ke pulau lainnya," begitu jawabku, meskipun sebenarnya seharusnya jawabannya tidak sesederhana itu.

Tapi yang aku ingat, nenekku pernah bercerita mengenai kisah bertemunya Abi dan Ummi, yang mungkin menjadi salah satu pendukung alasan mengapa aku bisa lahir di Pekanbaru. Seingatku, pindah ke Pekanbaru sebenarnya merupakan salah satu hal yang dijadikan alasan oleh Abi untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, agar dapat segera menikahi Ummi. Ya, Abi merupakan seorang lulusan salah satu sekolah yang dimiliki oleh pemerintah, yang setelah lulus pasti akan diterima di salah satu perusahaan milik pemerintah juga. Namun, saat itu, kebijakan yang berlaku adalah lulusan laki-laki akan ditugaskan di luar jawa, sehingga Abi pun kedapatan perintah untuk ditugaskan ke Pekanbaru.

Mungkin saat itu Abi mengatakan bahwa ia akan pindah ke Pekanbaru, di pulau seberang, sehingga beliau butuh menikah agar ada yang menjaganya, entahlah. Tapi yang aku ingat, nenekku berkata bahwa beliau menyetujui permintaan Abi karena beliau takut nantinya Abi justru menikah dengan orang Pekanbaru dan jadi tidak pulang-pulang ke kampung halaman. Kepicut dengan gadis sana katanya. Meskipun aku tahu, alasannya tidak mungkin sesederhana itu. Sebenarnya lucu sekali ketika mendengarkan nenekku bercerita. Usianya yang sudah lanjut tidak memudarkan semangatnya untuk menceritakan kisah itu kepadaku.

Kembali membahas Pekanbaru; meskipun aku tidak pernah ingat mengenai bagaimana rasanya tinggal di Pekanbaru, entah mengapa rasanya aku begitu rindu dengan Pekanbaru. Aku jadi ingin sesekali berkunjung ke Pekanbaru, meskipun hanya beberapa hari. Aku ingin melihat sendiri bagaimana suasana Pekanbaru yang selama ini hanya bisa aku dengar dari cerita Ummi dan Abi. Dan salah satu yang ingin aku lakukan jika suatu saat nanti aku dapat kembali menginjakkan kakiku di Pekanbaru adalah mengunjungi perumahan yang dulu sempat aku tinggali. Insya Allah. Semoga Allah memberiku kesempatan untuk itu.

Ah, rasanya aku harus mengatur jadwalku agar dapat mengunjungi Pekanbaru suatu saat nanti...


Purwokerto, di pojok ruangan kamar kesukaanku;
saat novel yang sedang aku baca tinggal beberapa halaman lagi;
tapi kerinduanku seakan memuncak;
sehingga aku memutuskan untuk cepat-cepat menuliskannya.
Read More
Published Jumat, April 20, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Brankas Rindu: Prolog


Hari sudah malam. Sudah jam sepuluh lebih seperempat, tetapi aku belum mengantuk. Rasanya novel yang sedang aku baca ini sangat mencandu. Tapi meskipun begitu, aku memilih untuk mengistirahatkan mataku sejenak, sembari menuliskan beberapa kalimat yang tiba-tiba saja melintas di pikiranku.

Ya, tiba-tiba aku merindu. Entah rindu atau hanya ingin bernostalgia, tiba-tiba saja aku teringat akan kisah-kisahku yang dulu. Kisah semasa kecil; saat harus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya; ketika harus bersusah payah hanya untuk dapat memiliki teman; dan lain sebagainya. Rasanya aku ingin kembali mengingat kisah-kisah sederhana itu dan menuliskannya di sini, agar suatu saat nanti aku bisa kembali mengingatnya. Bukankah sebagian orang memiliki kemampuan mengingat yang sangat terbatas?

Mungkin kalian yang pernah membaca postingan sebelumnya, pasti tidak akan asing dengan judul yang aku gunakan. Ya, aku memang memutuskan untuk tidak melanjutkan episode 'Brankas Kisah' yang sebelumnya hanya sempat tertulis di bagian prolognya saja. Entahlah, rasanya aku sudah tidak memiliki hasrat lagi untuk menulis tentang kisah cinta yang menye-menye. Dan kalaupun suatu saat nanti aku memutuskan untuk kembali menulis tentang cinta, aku harap kisah tersebut merupakan kisah dari seseorang yang kelak menjadi suamiku. Itupun kalau Allah memberiku kesempatan untuk memiliki jodoh di dunia. Karena kalau aku tidak salah ingat, seseorang pernah berkata padaku bahwa jodoh di dunia sejatinya hanyalah bonus, karena jodoh sebenarnya adalah jodoh kita di akhirat. Wallahu a'lam bishawab...

Dan ya, sepertinya beberapa hari ke depan aku akan menyicil kisah-kisah nostalgia itu. Aku akan mengusahakan untuk menuliskannya di tengah-tengah padatnya kegiatanku; yang Alhamdulilah, sepertinya akhir-akhir ini aku merasa semakin sibuk. Insya Allah. 


Purwokerto, 20 April 2018; 22:26
Doakan aku dapat menepati janjiku;
Aamiin.
Read More
Published Jumat, April 20, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Pergi


"Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup-mati, untuk memutuskan kemana langkah kaki akan dibawa. Pergi."

- Pergi, Tere Liye




Alhamdulillah. Ini adalah novel pertama yang berhasil saya selesaikan minggu ini. Meskipun butuh waktu selama hampir empat hari untuk menyelesaikan bacaan ini, tapi saya tidak pernah kecewa dengan novel-novel milik Tere Liye. Dan Tere Liye memang merupakan salah satu penulis yang selalu saya tunggu-tunggu karyanya, yang apabila saya tahu bahwa ia baru saja menerbitkan sebuah karya, saya pasti akan langsung memburunya sampai dapat; tak mau sampai ketinggalan.

Dan, ya. Novel Pergi ini merupakan sekuel dari novel Pulang, yang juga milik Tere Liye. Namun, karena saya membaca novel Pulang itu sudah lama sekali, jadinya ada beberapa saat dimana saya kesusahan mengingat-ngingat kejadian demi kejadian yang menjadi kisah nostalgia di novel Pergi tersebut. Maklum, saya membaca novel Pulang di tahun 2015, tepat beberapa hari setelah novel tersebut diterbitkan. Sedangkan sekarang kan, sudah tahun 2018, hehe.

Intinya, saya hanya ingin mengatakan bahwa novel Tere Liye Pulang dan Pergi ini sejatinya mengajarkan pembacanya akan arti kehidupan; lebih tepatnya tentang tujuan. Kemana kita akan pulang; yang setelahnya diikuti dengan kemana kita akan pergi. Untuk apa kita hidup? Akan dibawa kemana hidup kita? Begitulah kurang lebihnya. Dan setelahnya, juga terdapat beberapa pelajaran mengenai kesetiaan, kasih sayang, dan lain sebagainya.

Saya yakin, pembaca sekalian pun tidak akan merasa kecewa setelah membaca novel Pergi milik Tere Liye ini. Meskipun novel ini banyak menggunakan kata-kata asing dan menceritakan tentang kejadian yang tidak umum, namun saya yakin, kalian tidak akan ketinggalan ataupun kebingungan dengan jalan ceritanya, sekaligus tidak akan kehilangan sedikitpun makna yang terkandung di dalamnya. Insya Allah.


Purwokerto, 20 April 2018; 20:35
Setelahnya saya langsung membaca novel yang lain;
yang sepertinya akan saya selesaikan malam ini;
atau paling lambat besok pagi;
karena saya sedang bersemangat sekali.
Read More
Published Kamis, April 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Move On

https://scontent-sea1-1.cdninstagram.com/t51.2885-15/s480x480/e35/17586975_398197450561566_4015484548459528192_n.jpg?ig_cache_key=MTQ4MTIwOTIzMDg1MzY2NTYwNQ%3D%3D.2

Move on itu;
Bukan melupakan, tapi melapangkan.
Bukan membenci, tapi mensyukuri.
Bukan hanya menyesali, tapi jua memuhasabahi.
Bukan mengunci hati, tapi mentazkiyah hati.

Dan Bismillah, niatkan segala karena Allah;
Insya Allah bisa kok :) 


Kamis, pada sobekan-sobekan masa lalu;
yang mulai menyatu dari patahnya harapan;
diambil dari bait-bait halaman ini. 
Read More
Published Kamis, April 19, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Berpura-pura

Berpura-pura,
tapi tak mengapa.
Aku tak terbiasa,
tapi ini pilihmu.

Yang katanya bertahap,
tak berlaku untukku.
Apa yang ku bilang,
tak jadi pikirmu.

Selamat.
Akhirnya waktu yang kau tunggu pun datang juga.


Jakarta, 19 April 2018; 07:11
Penyakit ini, ku harap bisa sembuh.
Karena mereka mulai menyebutku gila.

Read More
Published Selasa, April 17, 2018 by Hannan Izzaturrofa

SEBAL


Dan siang ini pun saya sukses dibuat sebal oleh dua orang teman saya. Huh, sebal.
  Read More
Published Selasa, April 17, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Tertarik

Mengambil jeda untuk beristirahat sejenak. Memilih diam dan menyendiri seharian.
Saya tiba-tiba berpikir akan sesuatu.

Entah mengapa akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan bipolar. Mungkin beberapa hari ke depan saya akan banyak membaca mengenai hal ini, sekaligus memperlajari apa saja yang berhubungan dengan bipolar.
Insya Allah.

Selasa, saat matahari sedang bersinar terang-terangnya.
Read More
Published Selasa, April 17, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Terjebak

Tiga hari ini saya mulai tersadar, bahwa sepertinya selama ini saya sudah salah melangkah. Awalnya saya merasa sedih, karena seperti bertahun-tahun menahan diri untuk tidak menghancurkan persahabatan yang telah terjalin begitu lamanya; dengan mengabaikan segala kesakitan yang ada. Saat itu saya merasa, selama ini saya membiasakan diri untuk tidak memikirkan kesakitan itu, meskipun ada kalanya saya protes di beberapa hari; tapi saya tidak pernah menjauh. Eh, dia baru kemarin merasa hal yang mungkin hampir sama dengan apa yang saya rasakan, langsung memilih menjauh karena merasa tidak kuat. Heuh.

Awalnya ketika ia memutuskan untuk menjauh, saya juga memilih untuk menjauh. Saya juga emosi saat itu. Tetapi dua hari setelahnya, saya jadi merasa tidak enak hati. Bukan maksudnya tidak enak hati karena menjauh, tapi justru seperti merasa bahwa masih ada yang salah. Setelah mencoba menghubungi, ternyata saya justru mendapatkan kekecewaan. Kasarannya saya seperti ditolak. Meskipun katanya ini demi kebaikan saya dan dia, namun saat itu otak saya merasa tidak terima. Namun saya tidak bisa memprotesnya.

Hingga akhirnya karena kesedihan dan kekecewaan saya hari itu, saya pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Selesai sholat maghrib saya langsung pesan ojek online untuk pulang. Dan sesampainya di kosan pun saya langsung beberes dan melanjutkan membaca novel yang sempat tertunda. Sampai malam.

Namun di sini-lah saya justru merasa seperti terlahir kembali. Saya merasa, saya justru menjadi menemukan apa yang bisa membuat saya bahagia. Saya membaca sampai lupa waktu; sampai hampir tengah malam tanpa bolak-balik mengecek ponsel seperti yang biasa saya lakukan di hari-hari sebelumnya. Bahkan setelahnya saya masih bisa menulis beberapa tulisan yang masih saya simpan di draft karena sedang menunggu waktu yang pas untuk memunculkannya di dalam blog ini.

Ya, saya seperti kembali ke masa lalu. Saat saya hanya menghabiskan waktu di dalam rumah dengan tumpukan buku-buku dan tulisan-tulisan sederhana. Saat itu saya tidak pernah ikut bermain dengan teman-teman, entah itu laki-laki maupun perempuan; apalagi sampai malam. Saya sangat menikmati kesendirian saya, dan saya bahagia.

Dan entah mengapa, setiap ia memutuskan untuk pergi, rasanya saya justru lebih suka menyendiri. Tetapi ketika ia kembali; saya pun tidak mengerti, mengapa saya malah jadi suka bermain dan nakal sekali. Padahal, dia justru orang yang tidak pernah mengajak saya bermain, dan paling tidak suka saya bermain dengan lawan jenis, serta paling bersemangat mendukung saya untuk segera resign karena kondisi kantor yang agak kurang baik untuk saya: menurutnya; yang sepertinya akhir-akhir ini pun saya setuju dengannya.

Entahlah, namun yang awalnya saya merasa kecewa dan tidak terima, sepertinya saat ini saya sudah mulai bisa menerima keadaan. Saya merasa ini memang yang terbaik untuk saya dan dia. Ya, sepertinya pun dia justru menjadi lebih bahagia tanpa saya; dan saya pun melihatnya memang dia baik-baik saja, tidak seperti saya yang awalnya merasa sedih dan kehilangan. Hal-hal yang sepertinya kemarin ia sampaikan, apalagi yang katanya ia seperti tidak memiliki teman, sepertinya sekarang justru menjadi terbantahkan. Entahlah, setiap kami memutuskan untuk tidak berhubungan, saya yang biasanya memiliki banyak teman justru menjadi sendirian. Tapi dia yang biasanya--katanya--tidak memiliki teman, justru jadi lebih sering bermain dan tampak jauh lebih bahagia.

Namun, meskipun saya menjadi sendirian, setidaknya saya jadi lebih terjaga setelah kepergian dia. Saya malah jadi belajar untuk lebih mandiri lho, karena saya akui, saya itu tidak mandiri. Saya banyak bergantung kepada orang lain; ya salah satunya dia itu. Namun akhir-akhir ini saya seperti ingin sekali mencoba hal-hal yang baru sendirian; contohnya seperti pergi ke Islamic Book Fair sendirian, menggunakan busway sebagai transportasinya. Insya Allah; mudah-mudahan bisa terlaksana.

Selain itu, saya pun jadi lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Saya jadi bisa membiasakan diri untuk menulis; menulis untuk berlatih membuat tulisan yang baik dan benar. Ya, dulu saya memang sangat suka menulis. Untuk cerita tentang menulis dan mengapa saya sempat berhenti ini akan saya ceritakan di postingan yang lain; Insya Allah.

Ah, mungkin kemarin-kemarin saya sudah terjebak, ya.


Jakarta, 17 April 2018; 06:59
Saya menulis untuk menghilangkan rasa kantuk;
saya ingin berangkat pagi hari ini;
dan pulang lebih awal. Insya Allah.
Read More
Published Senin, April 16, 2018 by Hannan Izzaturrofa

Di Antara Dua Sujud

Maaf jika pada kenyataannya saya justru jadi men-spoiler-kan isi dari Novel ini. Sungguh, apabila itu benar adanya, saya benar-benar tidak bermaksud demikian.

*

 "Tak ada yang diciptakan di atas dunia ini yang sia-sia. Dedaunan kering, sampah di pinggir jalan, bau selokan yang membuat muntah pun tak lepas dari pandangan Tuhan. Bahkan seorang pelacur yang dianggap hina oleh manusia juga bisa tercatat memasuki pintu surga, hanya karena memberi kebaikan pada seekor anjing yag kehausan. Tak ada yang sia-sia kalau kita menyadari siapa diri kita..."

- Di Antara Dua Sujud, Muhammad Irata.


Sebuah novel yang menjadi novel kesukaan kedua setelah novel milik penulis favorit saya: Habiburrahman El Shirazy. Meskipun latar tempatnya bukan Mesir atau Turki seperti novel islami kebanyakan, tetapi latar Manado sukses membuat novel ini juga tidak kalah bagusnya. Bahasa yang digunakan juga ringan dan mudah dipahami. Rasanya saya seperti diajak menonton novel tersebut, bukan membaca; karena pemilihan diksi dan katanya mampu menggambarkan jalan cerita dengan sejelas-jelasnya.

Sebenarnya niat awal saya adalah me-review isi dari novel ini. Namun sepertinya saya tidak begitu pandai dalam merangkai kata dan mengambil makna yang penting, ya. Jadinya saya hanya akan menuliskan beberapa poin yang menjadi perhatian saya dalam buku ini.

Dan, ya. Ini adalah novel tentang cinta; tentang pengharapan; tentang takdir; tentang perubahan; sekaligus tentang keyakinan. Sungguh, ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari novel tersebut. Dan semua pelajarannya adalah tentang kebaikan. Insya Allah.


Jakarta, 16 April 2018; 23:08
Sebenarnya tulisan ini seharusnya di-post minggu malam;
hanya saja di lembar-lembar terakhir saya justru merasa pusing dan mual;
sehingga akhirnya memutuskan untuk membiarkan ia bersemayam di draft bersama tulisan lainnya;
sekaligus mengistirahatkan mata yang semakin meminta untuk dipejamkan;
tepat jam sepuluh. Cepat, kan?
Karena malam itu sepertinya saya merasa nyaman.
Read More
Published Sabtu, April 14, 2018 by

Sensitif; Maka Menghilanglah!

Beberapa hari ini saya sedang sensitif. Entah mengapa bawaannya ingin marah-marah terus. Dideketin orang: marah. Ditanyain orang: marah. Berdebat pendapat sedikit dengan orang: marah. Bahkan saking sensitifnya, badan saya rasanya seperti mau remuk; sakit sekali. Rasanya pegal-pegal seperti sedang masuk angin. Dan lagi-lagi karena saya sedang sensitif, saya menjawab pertanyaan seseorang dengan nada tinggi hanya karena dia menanyakan apakah saya sedang sakit atau tidak. Sensitif sekali, ya. Padahal yang bertanya itu jauh-jauh-jauh lebih tua dari saya, hiks.

Entahlah, sepertinya ada yang salah dengan diri saya. Sensitif dan malas untuk datang ke kantor pagi-pagi; tidak seperti biasanya. Rasanya seperti ingin di kosan terus lama-lama, menikmati kesendirian saya dengan bacaan-bacaan dan tulisan-tulisan sederhana.

Ah, sepertinya beberapa minggu ke depan saya akan memilih untuk diam dan menghilang sejenak. Mungkin akan sedikit menutup komunikasi dengan yang lainnya, dan membatasi hanya bisa dihubungi melalui sms atau telepon. Maaf.

Ada banyak hal yang harus dibereskan dan dibiasakan.


Jakarta, 14 April 2018
Ditulis ketika cuaca Jakarta sedang panas-panasnya;
dan kamar saya terasa seperti sauna;
sehingga saya bertambah sensitif,
hiks.
Read More
Published Sabtu, April 14, 2018 by

Quotes: 14 April 2018

"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu." ― Ali Bin Abi Thalib
Read More
Published Kamis, April 12, 2018 by

Note(s) to Myself

Berawal dari keisengan sesaat ketika melihat sebuah quotes yang tertera di notes yang tertempel di bawah monitor dengan kondisi yang sudah bernoda di sana-sini, saya memutuskan untuk menulis kembali quotes tersebut dengan tulisan yang lebih dibesar-besarkan. Quotes tersebut berbunyi, "start from simple thing called discipline," yang ditulis oleh salah satu teman kantor yang mewawancarai sekaligus menjadi lead saya awal-awal masuk kantor. Namun dua hari kemudian, saat saya memutuskan untuk berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya, saya menemukan sebuah notes yang sepertinya merupakan balasan dari notes yang saya pasang dua hari sebelumnya.

Awalnya saya menanyakan kepada beberapa teman yang duduknya dekat dengan meja kerja saya, namun, sepertinya tidak ada yang mau mengakuinya (walaupun sekarang saya sudah tahu siapa pelakunya). Karena merasa bahwa notes balasan tersebut seperti bertolak belakang dengan apa yang saya tulis, saya pun memutuskan untuk menyandingkan kedua notes tersebut di atas monitor. Lalu, apa yang terjadi? jeng.. jeng.. seiring dengan berjalannya waktu, setiap harinya, monitor di hadapan saya itu pun menjadi laku oleh tempelan-tempelan notes dari berbagai penjuru (oke ini lebay).

Inilah penampakan "notes board" yang ada di meja saya. Maafkan hasil foto yang tidak fokus ini.
Dan ya, seperti yang kalian lihat, sekarang monitor di hadapan saya ini sudah berubah menjadi notes board yang dipenuhi dengan beberapa quotes dan pesan-kesan untuk saya. But, terima kasih teman-teman, karena telah menghias monitor di depan saya ini sedemikian rupa :)


Jakarta, 12 April 2018; 10.46

Read More
Published Selasa, April 10, 2018 by

Kesedihan

Saat merasa sedih atau berduka, sejatinya itu bukanlah tanda kalau kita itu lemah.
Namun perasaan itu adalah tanda akan hal yang kita anggap berharga.
Kesedihan itu perlu diungkapkan, perlu diberi ruang dan waktu, untuk kita alirkan.
Di sana, Allah memberi pelajaran untuk kita.

Mengungkapkan kesedihan itu bisa beragam ekspresinya;
murung, menangis, meraung, ataupun diam.
Ada pula yang tidak mau mengakui kesedihannya, berpura-pura kuat.
Namun jiwa kita punya cara untuk memberi tanda kesedihan pada diri kita.

Kesedihan itu akan berubah menjadi perilaku yang sulit kita kendalikan.
Entah itu kecanduan game, merokok, narkoba, kelebihan berat badan, anoreksia, insomnia, mudah marah, tidak bisa marah, dan berbagai perilaku lainnya yang sulit kita kendalikan.
Semua gejala itu adalah cara jiwa kita membisikkan kepada diri kita, bahwa ada kesedihan yang kita pendam, yang tak mau kita akui.

Maka dari itu, saat kita merasa sedih, beri perasaan itu ruang dan waktu untuk terekspresikan.
Seringkali perasaan itu hadir saat kita merasa kehilangan, ditinggalkan, tak berharga, tak ada gunanya.
Perasaan sedih itu hadir, untuk mengingatkan bahwa ada Dia yang selalu ada, dan tak pernah pergi.
Ada Dia yang masih memberi kita kesempatan untuk hidup, untuk menjadi berharga, dan untuk menjadi berguna.


Jakarta, 10 April 2018; 09.40
Ditulis saat suasana kantor masih sepi;
diiringi dengan ost. Dilan yang diputar kencang-kencang oleh seseorang;
direpost dari storygram milik Nida yang telah diubah sana-sini;
tanpa mengurangi maksud dan makna yang disampaikan;
Read More
Published Senin, April 09, 2018 by

Mungkin Judulnya: Seimbang

Semesta itu seimbang dan harus demikian.
Bahkan harus ada lubang hitam untuk mengimbangi massa total seluruh planet dan astroit di seluruh jagad semesta.
Begitu juga hidup kita.
Seimbang dan harus demikian.
Ada suka ada duka, ada senang ada sedih, ada jaya ada di bawah.
Agar jagad hidup kita berjalan dengan seimbang, tidak mencong kanan atau kiri.

Oleh: Amri-kun

Jakarta, 9 April 2018; 19.53
Tulisan ini saya ambil dari storygram milik Zakka Gifari;
jadi minta izin repost-nya pun tidak langsung,
hehe.
Read More
Published Senin, April 09, 2018 by

Mendzalimi Diri Sendiri

"Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang."
- HR. Bukhari No. 6412, Dari Ibnu 'Abbas.

Saat sedang iseng-isengnya membuka-buka situs youtube untuk mencari beberapa kajian ringan di sunyinya suasana sore itu, tiba-tiba pandangan saya terhenti pada sebuah potongan video kajian yang dibawakan oleh Ustad Syafiq Reza Basalamah. Judulnya, "dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia". Dalam hati saya, wah, ini saya banget.

Hari ini memang sedang tidak ada kegiatan berat, hanya beberapa kegiatan ringan. Pagi tadi saya memutuskan untuk izin ke salah satu HRD untuk tidak masuk kantor karena kondisi tubuh saya yang sedang kurang fit. Kepala saya terasa cukup berat dengan kondisi perut yang juga sepertinya kurang bersahabat, melilit-cenut-cenut gitu. Sempat memaksakan diri untuk berangkat ke kantor, namun qodarullah harus dibatalkan karena tiba-tiba saya jatuh terduduk padahal baru berniat untuk mengambil handuk, yang membuat saya berpikir bahwa, ya Allah, sungguh, betapa kesehatan adalah nikmat yang besarnya tak ternilai, yang terkadang sering terlupakan.

Semenit-duamenit, setelah duduk termenung sembari beristighfar, saya memutuskan untuk meneguk beberapa air putih untuk membatalkan puasa yang sudah saya niatkan semalam (ini juga salah satu kesalahan saya, menunda-nuda untuk membayar hutang puasa, mengira bahwa saya masih memiliki banyak waktu, padahal di satu bulan terakhir ini justru banyak kendala yang mengharuskan saya untuk membatalkan niat berpuasa). Sejenak, saya memutar kembali waktu dalam pikiran saya. Ke dua puluh empat jam sebelumnya, di hari Ahad. Hari yang mungkin menjadi penyebab ketidakenakan kondisi tubuh saya hari ini.

Seperti hari-hari Ahad sebelumnya, biasanya hari Ahad ini saya khususkan untuk melakukan me-time. Biasanya saya menghabiskan waktu me-time tersebut dengan menuntaskan bacaan-bacaan yang belum sempat terselesaikan, membaca buku fiksi, atau menonton episode detective conan yang entah sudah berapa ratus jumlahnya. Biasanya saya tidak akan keluar kamar seharian, atau hanya menyempatkan diri keluar kamar untuk membeli makan. Dan saat itu, saya ingat sekali, bahwa malam sebelumnya saya belum sempat makan malam, sehingga perut saya terasa agak sakit.

Namun karena kemalasan saya yang (Astaghfirullah) memang tidak ada duanya, saya pun memutuskan untuk merapel jadwal sarapan dengan makan siang, karena sebagaimana seorang introver, saat itu saya sedang malas berinteraksi dengan orang lain--melupakan sejenak kondisi perut saya yang sudah sakit. Saya membaca buku hingga adzan Dhuhur berkumandang. Setelah menunaikan kewajiban, saya meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas kasur, mengecek waktu yang tertera: pukul 12.21. Saya ingat sekali itu, karena saat itu saya memutuskan untuk memasang alarm 45 menit setelahnya, karena rasanya mata saya terasa agak berat. Mungkin karena terlalu lama membaca buku sambil tiduran. Dan sekali lagi, karena merasa masih memiliki waktu, saya pun memutuskan untuk tidur sejenak.

Memang ya, kejadian itu hanya Allah yang tahu. Manusia tidak akan sanggup dan tidak akan memiliki kuasa meskipun itu hanya soal menerka-nerka. Karena kesoktahuan saya itu, 45 menit setelahnya saya terbangun. Namun Subhanallah, Allahumma Shoyyiban Nafi'aan, di luar sana sedang turun hujan yang sangat lebat. Padahal, waktu saya mau tidur tadi cuaca langit masih sangat terang-terangnya. Mana tahu saya akan turun hujan selebat ini. Dan hujan pun baru berhenti pada sore harinya, setelah jam-jam selesai sholat Ashar, dengan kondisi perut saya yang sudah berdemo meminta pertanggungjawaban dari perbuatan saya itu. Duh, sepertinya saya sudah mendzalimi diri saya sendiri..

Semoga Allah mau mengampuni kesalahan saya yang lalai ini. Dan semoga hal ini dapat dijadikan pelajaran untuk saya, dan teman-teman semua, bahwa sejatinya kita tidak boleh sombong dengan merasa bahwa masih memiliki banyak waktu, dan harus banyak-banyak mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, salah satunya adalah nikmat kesehatan itu sendiri.

Dan semoga Allah menjadikan kita semua sebagai pribadi yang kuat, yang mampu bersabar atas berbagai hal yang terjadi. Aamiin.


Jakarta, 9 April 2018;
Ditulis saat hujan kembali turun dengan lebatnya;
Saat perut dan kepala saya sudah terasa mendingan,
akibat dari kelalaian dan kesombongan saya di hari sebelumnya.
Read More